Hal-Hal yang Sering Terlewatkan dalam Mempersiapkan Pernikahan


Sudah menyiapkan modal untuk menikah? Jangan lupa untuk persiapkan juga hal-hal berikut ini.

.

Merasa siap menikah? Yakin?

Sebagian orang merasa siap menikah karena telah cukup mapan secara finansial. Sebagian yang lain merasa telah siap karena sudah ada calonnya, sudah ketemu jodohnya. Sebagian lagi karena sudah meluluskan kuliah atau pendidikannya dan sudah dapat pekerjaan yang cocok dengan dirinya. Namun, sebenarnya, persiapan untuk menikah tidak cuma sebatas itu. Ada hal-hal lain yang juga penting, tapi sering terlewatkan dalam mempersiapkan proses penyatuan dua insan paling sakral, yaitu pernikahan.

1. Persiapan menghadapi keluarga besar calon

Ini bisa disebut dengan persiapan mental sebelum pernikahan. Seorang suami atau istri harus benar-benar paham bahwa menikah bukan hanya menyatukan dua orang, tapi juga dua keluarga. Bukan hanya perlu memahami watak pasangan, tapi juga harus maklum dengan karakter keluarga pasangan nantinya.

Banyak orang yang tidak siap dengan aspek ini, sehingga ketika mendapat perlakuan yang tidak biasa dari keluarga pasangan, mereka sakit hati, atau bahkan minta berpisah. Jika sedari awal tidak cocok dan tidak ada komitmen untuk saling mencocokkan, lebih baik hubungan tidak perlu dilanjutkan, daripada di kemudian hari terjadi pertentangan yang tak berkesudahan.

 

2. Siap menikah berarti siap punya anak

Salah satu fungsi pernikahan adalah fungsi reproduksi atau menghasilkan keturunan. Tentunya keturunan yang berkualitas secara intelektual maupun mental. Untuk melahirkan keturunan seperti ini, maka ibu dan ayahnya harus punya persiapan dulu. Namun, cukupkah jika persiapan itu hanya dilakukan saat si istri baru diketahui hamil? Tidak. Berapa buku yang harus dibaca, berapa seminar yang harus diikuti, berapa video yang harus ditonton, itu harus dicicil sejak sebelum pernikahan. Minimal ketika telah menemukan kecocokan dengan calon.

Banyak orang mengabaikan ini dan menganggap siap menikah hanyalah siap berucap akad. Padahal, siap menikah berarti siap punya anak dan mendidik anak tidak bisa hanya dengan modal akad dan mahar. Tidak bisa hanya dengan materi, tapi juga dengan ilmu dan kesiapan mental calon ayah dan ibu.

 

3. Komitmen untuk mempertahankan pernikahan

Sebagian orang punya materi berlimpah, pekerjaan yang layak, dan pendidikan tinggi, tapi tidak bisa mempertahankan pernikahan. Bukan hanya kurangnya persiapan sebelum menikah, tapi juga karena kurangnya komitmen dari awal untuk mempertahankan pernikahan apa pun yang terjadi. Ketika dua orang menikah, tentu cobaan bukan hanya bersumber dari satu hal, tapi dua hal, bahkan lebih. Jika tidak punya pondasi yang kuat untuk terus bergandengan tangan meniti aral rintangan, maka pernikahan terancam buyar di tengah jalan.

Di sinilah perlu persiapan hati, termasuk menguatkan iman. Dengan kekuatan iman dan kepercayaan pada Tuhan, maka orang akan lebih tegar menghadapi cobaan karena yakin ada yang mengatur hidupnya. Kepercayaan antara pasangan juga menjadi modal penting dalam menghadapi tahun-tahun sulit pernikahan. Jangan sampai berujung cerai karena hal-hal remeh yang bisa diselesaikan dengan kesabaran dan pemahaman satu sama lain.

 

Itulah hal-hal yang juga harus disiapkan untuk modal pernikahan nantinya. Uang, pekerjaan, dan pendidikan juga merupakan modal yang penting. Namun, tanpa pemahaman pada tiga hal di atas, pernikahan menjadi sulit dipertahankan, atau menjadi penjara kehidupan. Maka, penting bagi yang masih jomblo, untuk terus upgrade ilmu dan mempersiapkan psikis sebelum memasuki pintu gerbang pernikahan. Istilahnya, sedia payung sebelum hujan. Kalau payungnya tiba-tiba rusak di tengah jalan, itu kehendak Tuhan. Tugasmu hanya merencanakan, setelah itu pasrahkan. []