Sebuah Pengantar: Selembar Kegelisahan Tentang Jurnalistik


Agar kita sebagai masyarakat, setidaknya bisa ikut mempelajari, supaya tidak buta mengenai media dan bagaimana cara mereka bekerja, membangun, serta menciptakan citra yang kemudian dipublikasikan ke masyarakat. Mengenai konstruksi (pembangunan) framing media atau dekonstruksi (mengurai) bagaimana media mengarahkan pemberitaan, kepentingan apa dibalik setiap berita yang dipublikasikan, siapa yang dirugikan dan diuntungkan dalam masing-masing konten yang dimuat, dan sebagainya.

(Sumber Gambar: Kumparan.com)

Media online merupakan salah satu alternatif yang paling banyak digunakan di tengah berkembangnya--atau justru, majunya--teknologi kita sekarang. Sebut saja, Revolusi Industri 4.0 (Four-Point-O). Yang termasuk topik nomer satu paling ramai diperbincangkan akhir dekade ini, namun agaknya bila masih kita angkat bahasan soal itu, akan terasa usang. Saya tidak menjadikan Revolusi Industri 4.0 sebagai tema besar, melainkan ingin mengangkat hal yang berkaitan dengan itu, namun lebih ke sisi jurnalistik, yaitu portal berita online.

Sekitar akhir semester 9 (sembilan) kemarin, saya sempat mendengarkan salah satu materi dalam seminar jurnalistik--atau justru, cerita dari senior yang sudah berprofesi sebagai jurnalis, mengenai proses seleksi menjadi wartawan portal berita online. Yang membuat saya kaget, tidak sedikit media online menggunakan proses seleksi tanpa mempertimbangkan kompetensi kepenulisan/jurnalistik yang dimiliki calon wartawan yang mengirim lamaran.

Dari informasi itu saja, saya sudah merasakan kengerian luar biasa. Tidak mampu membayangkan, bagaimana cara wartawan itu menulis dan melaporkan berita, apabila lolos seleksi dan dinyatakan sah menjadi wartawan/pekerja tinta. Tidak memiliki bekal jurnalistik, tidak pernah mengikuti pelatihan menulis, namun nekad turun lapangan dan menjadi pemburu berita, yang merupakan pekerjaan mulia dan paling rentan kesalahan karena berkaitan dengan informasi banyak orang/publik.

Apalagi ditambah, target berita yang harus disetor ke media online setiap harinya berjumlah empat sampai sepuluh berita dalam bentuk straight news, misalnya. Bagaimana jadinya? Tiba-tiba saya teringat pengalaman masa lalu, saat pertama kali mengikuti Diklat Jurnalistik Dasar (DJD) di salah satu Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) tingkat fakultas. Dilaksanakan tiga hari, tiga malam. Dicekoki puluhan materi, langsung ditugaskan praktik turun lapangan hingga tengah malam dan banyak nyamuk.

Berulangkali kami salah, tidak sedikit juga dimarahi dan dimaki oleh senior. Lembaran buletin disobek di depan mata kami, berita dihapus dan diminta menulis ulang dari awal. Belum lagi, hasil rekaman wawancara dengan narasumber lupa tidak direkam, atau justru terhapus karena kendala teknis handphone kami yang memori internalnya sudah penuh.

Tiga hari, tiga malam, hanya makan gorengan, minum air putih galon hasil isi ulang, dan makan nasi bungkus yang tidak jangkep tiga kali seharinya. Proses kami belajar jurnalistik sangat berat, penuh kesalahan, kegagalan, kesedihan, belum lagi perseteruan antar anggota tim liputan sendiri. Yang berbeda pendapat, atau tidak ada yang ingin mengalah dan masih terlampau egois dalam pekerjaan kelompok.

Sangat tidak cocok, bila dibandingkan dengan wartawan tadi, yang di kampus saja tidak pernah mengikuti LPM. Apalagi mendaftar diklat jurnalistik dasar, menengah, atau lanjutan. Tidak pernah dimarahi senior, tidak pernah merasakan hasil produk liputan dicoret-coret sampai sedih sendiri melihatnya.

Mereka adalah wartawan instan. Mengirim lamaran, tanpa proses seleksi panjang, tidak ada pertimbangan soal kompetensi dan pengalaman organisasi bidang jurnalistik, namun langsung diterima dan lolos. Hanya karena perusahaan media online itu perlu tenaga untuk mengisi portal beritanya yang hanya fokus pada jumlah viewers dan click advertisement. Apalagi kalau bukan soal keuntungan?

Kesimpulan paling buruk. Bisa jadi, kondisi silang-sengkarutnya pemberitaan media online kita sekarang, terjadi karena pekerjaan jurnalistik sudah dipenuhi dengan wartawan-wartawan karbitan dan instan. Sehingga, rentetan berikutnya adalah, semakin subur berita-berita yang tidak sesuai fakta di lapangan, berita yang hanya memuat sebagian (fragmen) informasi saja dari kejadian, sehingga tidak menghindarkan salah paham antar golongan/masyarakat. Berita hoax--berita palsu (fake news), tidak segan-segan diproduksi, karena kurangnya kesadaran wartawan itu mengenai Kode Etik Jurnalistik.

Wartawan amplop tumbuh, mengiyakan ideologi pragmatis, kapitalis, melacur dan menomor-duakan kepentingan informasi publik demi menuruti keinginan pemilik modal perusahaan media online, atau justru hanya ingin mengisi perut-perut buncit agar semakin kenyang. Semua orang akhirnya, tidak menghargai proses dan pengalaman, yang instan-instan digunakan, asal hasil akhirnya tetap mendapatkan keuntungan dan keinaikan profit perusahaan media.

Maka dari itu, pengetahuan tentang pers dan jurnalistik sangat penting untuk dipelajari atau sekadar diketahui. Tulisan esai ini, merupakan salah satu kegelisahan dari sekian banyak kegelisahan saya yang lainnya. Dalam esai berikutnya, saya akan menuliskan tentang pers dan jurnalistik, dari awal sampai akhir, yang biasa diangkat menjadi materi diklat jurnalistik dasar, menengah dan lanjutan.

Agar kita sebagai masyarakat, setidaknya bisa ikut mempelajari, supaya tidak buta mengenai media dan bagaimana cara mereka bekerja, membangun, serta menciptakan citra yang kemudian dipublikasikan ke masyarakat. Mengenai konstruksi (pembangunan) framing media atau dekonstruksi (mengurai) bagaimana media mengarahkan pemberitaan, kepentingan apa dibalik setiap berita yang dipublikasikan, siapa yang dirugikan dan diuntungkan dalam masing-masing konten yang dimuat, dan sebagainya.

71 Dilihat